Rumah Kubur Masyarakat Adat Dayak Taman di Semangkok

Di wilayah Semangkok, ada sebuah lahan hijau dengan beberapa rumah kubur dari kayu yang melapuk.

Rumah Kubur Masyarakat Adat Dayak Taman di Semangkok.

Setelah menyeberangi Sungai Mendalam dari Rumah Betang Semangkok, melewati perkebunan karet, lalu menyusuri jalan kecil yang rimbun alang-alang di wilayah Semangkok, ada sebuah lahan hijau dengan beberapa rumah kubur dari kayu yang melapuk.

Rumah kubur tersebut diisi oleh tumpukan peti yang terbuat dari kayu keras dengan berbagai ukiran atau lukisan. Hiasan peti banyak yang bergambar burung enggang (rangkong) atau naga. Burung enggang dianggap burung keramat oleh masyarakat adat Dayak, sedangkan naga perlambang kekuatan. Jadi, tradisi masyarakat adat Dayak di beberapa tempat adalah dengan tidak mengubur mendiang di dalam tanah, tetapi meletakkannya di sebuah rumah panggung kecil.

Tiap rumah kubur berisi peti-peti dari satu garis keturunan. Jenis kayu untuk peti pun tidak sembarangan. Masyarakat adat Dayak Taman menggunakan kayu-kayu kelas 1, seperti kayu penyauk (penyauh) atau kayu tekam yang semakin langka ditemukan di hutan. Kayu ini dipilih karena kuat dan tahan lama, tak kalah dengan belian.

Karena kesulitan menemukan kayu utuh kelas 1, masyarakat adat Dayak Taman menyiasatinya dengan mempersiapkan kayu sebelum ada keluarga yang meninggal. Kayu yang dengan susah-payah ditemukan itu, biasanya dijadikan peti lebih dulu, lalu disimpan. Cara penyimpanannya pun beragam; bisa di dalam bilik rumah betang, di bagian bawah rumah betang, atau merendamnya di sungai di tengah hutan.

Kita harus kembali ke wilayah Rumah Betang Semangkok—agak jauh dari rumah kubur—jika ingin melihat langsung cara penyimpanan yang disebutkan terakhir. Kita bisa menelusuri hutan, lalu menemukan sebuah sungai kecil berair cokelat susu. Masyarakat setempat memang memfungsikan sungai seumpama kulkas. Terbukti, kayu lebih awet dan tidak rusak jika direndam di dasar sungai. Banyak peti kayu siap pakai, tersimpan hingga puluhan tahun di sungai dekat rumah betang.

Bagi masyarakat adat Dayak Taman, rumah kubur ini disebut surambi jika belum melakukan ritual adat. Ia disebut kulambu setelah ritual adat gawai mulambu (atau gawai manampunihulu). Penanda kulambu sudah melakukan gawai adalah berdirinya sebatang tiang patung (toras) di depan rumah kubur dan keberadaan kerangka kerbau yang dijadikan kurban.

Zaman sekarang, kerbau atau sapi menjadi kurban atau persembahan wajib tiap kali menggelar gawai. Namun, di masa lalu saat masih berlaku perbudakan, persembahannya (kurban) adalah manusia-manusia budak, untuk kemudian tengkorak manusialah yang diletakkan di rumah kubur.

Bicara gawai, di area kulambu, terdapat beberapa makam dengan batu bernisan. Mereka adalah jasad yang sudah melakukan gawai mamandung (mandung), yaitu upacara menurunkan peti mati dari rumah kubur untuk ditanam di dalam tanah. Proses gawai mandung itu panjang, bisa hingga 3 bulan. Otomatis, biaya gawai yang diperlukan pun besar. Karena mahal, sering ada permintaan dari mendiang untuk langsung dikuburkan di tanah karena tidak ingin merepotkan keluarga.

Keranjang Belanja