Tengkawang adalah tanaman sejenis meranti; pohonnya tinggi, berbatang besar, dan berbuah hanya di waktu-waktu tertentu di musim raya. Di pedalaman hutan, terutama di Kalimantan Barat, pohon tengkawang tumbuh liar dan tinggi. Keberadaan pohon tengkawang ini banyak gunanya. Batang kayu utamanya dimanfaatkan oleh masyarakat adat Dayak sebagai bahan pembuatan rumah apung yang masih bisa kita temukan di Kampung Semangit. Kayunya yang solid dan kuat, mengapung sempurna di atas air, menjadikannya tepat digunakan sebagai pondasi rumah apung.
Sementara, bagian buah tengkawang yang hanya ada di waktu-waktu tertentu atau di musim raya, kerap kali dimanfaatkan oleh masyarakat adat Dayak sebagai bahan pembuatan kosmetik, lipstik, pelembap kulit, sabun, hingga butter atau pengganti minyak.
Di musim raya, pohon-pohon tengkawang berbunga, lalu berbuah, di saat yang hampir bersamaan dalam jumlah yang banyak. Buah tengkawang sendiri berbentuk indah seperti anggrek yang memiliki sayap. Jika telah matang dan kering, buah tengkawang akan berjatuhan ke tanah. Buah-buah jatuh ini yang biasa dikumpulkan oleh masyarakat setempat untuk diolah.
Biasanya, setelah dibawa pulang, buah tengkawang akan dijemur terlebih dulu atau disalai (diasapi). Sebagian besar buah yang sudah cukup kering akan dijual ke kota. Namun, sebagian lain ada pula yang diolah lebih lanjut. Buah tengkawang kering tadi akan dikukus. Setelah sari pati minyak keluar, tengkawang diperas sehingga menghasilkan minyak tengkawang dan dimasukkan ke dalam bambu sebagai kemasan. Ketika sudah mengeras dan berbentuk serupa butter, tengkawang itu sudah bisa dijual.
Masyarakat biasa menggunakan minyak atau butter tengkawang ini untuk memasak, membuat kue, roti, bahkan untuk pelembap kulit atau obat oles mengobati luka bakar. Harapannya, di masa depan, tengkawang bisa diproduksi dan didistribusikan menjadi komoditas yang memberi nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat lokal.




